Tahun 2009 saya memutuskan (dengan terpaksa) untuk kuliah di kota
Bandung, karena keiinginan untuk berkuliah di IISIP (Institut Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik) Lenteng Agung Jaksel, tidak dikabulkan orang tua. Katanya semoga
di udara dingin emosi saya tidak terlalu meledak-ledak. Saya memilih prodi
Pendidikan Bahasa Arab dan prodi Pendidikan Bahasa Inggris UPI (Universitas
Pendidikan Bandung d/h IKIP), prodi Ilmu Komunikasi Institut Manajemen (IM) Telkom
Bandung dan prodi Sastra Arab dan Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Bandung. ketiganya saya ambil melalui ujian mandiri UM UPI, SMBB Telkom dan
SMUP Unpad, saya tidak pernah menambah nominal uang sumbangan pendidikan yang
konon katanya menjadi pertimbangan kelulusan. Pertama saya kecewa karena
setelah pulang pergi Bogor-Bandung saya ternyata gagal diterima di UPI, kampus
yang saya inginkan karena hawa yang sejuk daerah Lembang yang tentunya sangat
dekat dengan tempat-tempat wisata daan juga lokasinya yang tidak terlalu jauh
dari pusat kota. Gagal diterima di UPI sempat membuat saya sedikit frustasi
namun rencana Allah ternyata lebih indah secara bersamaan saya diterima Sastra
Arab Unpad dan IT Accounting PDC (Program Development Center), walau kedua
ujiannya di Bogor sempat ada kejadian yang membuat saya khawatir, saat SMUP
Unpad saya terlambat masuk setelah jam istirahat. Tes yang diujikan adalah
matematika dan psikotes ditambah lokasi saya ujian SMAN 1 kota Bogor adalah
Gereja Budi Mulia yang pada saat bersamaan sedang mengadakan kebaktian minggu.
Sedangkan di SMBB Telkom saya lupa memakai sepatu dan malah memakai sandal
gunung kesukaan saya, kealpaan saya ini telat saya sadari dan tak mungkin saya
kembali ke rumah atau membeli sepatu di pasar, ujian hampir dimulai, akhirnya
saya mengerjakan soal ujian dengan posisi kaki ke belakang agar tidak diketahui
pengawas. Diterima di dua perguruan tinggi merupakan kebangaan tersendiri dan
juga orang tua, padahal saya tidak mengikuti bimbel hanya belajar mengerjakan
soal-soal setiap pagi dan sore. Saya putuskan berkuliah di Unpad karena biaya
per-semester hanya 2 juta rupiah lebih murah dibanding Telkom yang mencapai
tujuh juta per-semester. Jalur masuk saya yang melalui ujian mandiri menjadi
olok-olokan beberpa pihak karena jalur mandiri 3 kali lipat dibanding jalur
SNMPTN untuk sastra Arab jalur mandiri adalah 14 juta tanpa ditambah uang
sumbangan pribadi sedangkan jalur SNMPTN hanya 6 juta, ketika SNMPTN 2009
digelar saya telah diterima di Unpad tanpa saya mengetahu selisih perbedaannya.
Saya cukup kesal dengan olok-olokan bahwa mahasiswa jalur SMUP
hanya mengandalkan uang. Tapi tak ada gunanya pula ditanggapi lebih baik
dibuktikan dengan capaian-capaian.
Juni 2013 hampir berakhir, tak terasa hampir genap empat tahun saya
kuliah di Unpad kampus Jatinangor dengan berbagai aktifitas akademik dan
kemahasiswaan yang cukup menguras pikiran dan tenaga, hampir selesai amanah ini
sebagai mahasiswa strata satu. Tak terasa cepatnya waktu bergulir. Seakan
bayangan-bayang kejadian dahulu sejak diterima sebagai mahasiswa Unpad diputar
kembali oleh memori otak ditemani melodi jiwa yang dimainkan oleh hati.
Kenangan demi kenangan di tempat yang diapit gunung dann perbukitan ini
tersimpan baik dalam memori otak ini.
Entah, sudah berapa orang yang hatinya sakit dan kecewa oleh ucapan
dan kelakuan saya? Entah, berapa orang yang menyimpan dendam dan sakit hati
karena saya? Semoga mereka dapat memaafkan kelakuan saya yang bener-benar
menjengkelkan.
Menanti Sarjana Humaniora !
Di sebuah ruang sepi sendiri,
Hegarmanah 9 Rewah 1434 H/18 Juni
2013
Komentar
Posting Komentar